Sekilas Kehidupan Nomaden sub suku Dayak Maanyan
Bagian II :
Perkembangan selanjutnya, keberadaan Kerajaan Nansarunai tidak bertahan lama dan diperkirakan bertahan hanya kurang lebih 5 tahun, hal ini disebabkan terjadi peperangan dengan tentara Jawa, yang dikenal dalam bahasa Wadian (Balian) "Nansarunai Usak Jawa".
Peperangan ini terjadi dan memukul mundur kepedalaman kumunitas Dayak Maanyan, pengembaraan berlanjut, sebagian mundur melalui jalur darat dan sebagian melalui jalur sungai Barito.
Pengembaraan Dayak Maanyan yang melalui jalur Darat, berakhir dan menetap di sekitar wilayah Warukin Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan. Kearah Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Barito Timur, Menetap Kawasan Banua Lima dan Kampung Sapuluh. Selanjutnya pengembaraan yang melewati jalur sungai Barito menetap diwilayah Paju Epat.
Dalam perkembangan selanjutnya, Dayak Maanyan dari wilayah Paju Epat, meneruskan kehidupan nomaden dalam hal berladang dan membuat Jukung (Perahu) dengan bergerak kearah Kabupaten Barito Selatan dan Kabupaten Kapuas.
Di Kabupaten Barito Selatan, Dayak Maanyan (Paju Epat) mendirikan Desa Sanggu, Sababilah, Pamangka, Tetei Lanan, Dangka, Hingan. Maruga, Bundar , Talekoi, dll.
Di Kabupaten Kapuas, Dayak Maanyan (Paju Epat) mendirikan Kampung/Desa Batampang, Batilap, Sungei Pasah, dll.
Jangan heran jika di Palangka Raya Komunitas Dayak Maanyan cukup banyak jumlah orangnya, pilihan pengembaraan adalah menuntut ilmu dan bekerja/berusaha.
Sesuai dengan semboyan Dayak Maanyan "Taguh Gansang Mape Maleh" tetap menjadi Spirit setiap insan Dayak Maanyan dalam pengembaraan dan kehidupannya.

2 Komentar:
"Taguh Gansang Mape Maleh" jaya slalu Dayak..Ma'anyan.....hehehehe
Taguh Gansang Mape Maleh artinya :Taguh = Teguh dalam pendirian, Gansang = Kuat dalam berjuang, Mape = Tahan menghadapi cobaan, Maleh = Melawan setiap kezalimam.
Sebuah Spirit Kehidupan.
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda